• SHINC: Sundays and holidays included
• SHEX: SHINC plus a dollar
• CQD: SHINC plus five dollars
• BOOKING NOTE: Gencon plus ten dollars bends
• CENTROCON LOAD: A technical term for robbery
• GROSS LOAD: SHINC plus your grandmother’s age, but you won’t get it
• MECH LOAD: Similar to Centrocon load but less owner friendly. Alt. Theft"
• WEATHER WORKING DAYS –CQD: plus four days (eight if grain)
• HSS: Heavy grains, Soya, Sorghum
• WHEAT: HSS less fifty cents
• BARLEY: WHEAT with hair
• "LIGHTS": A term for grain houses to use in order to lie about what they paid for HSS
• MILLET: Wheat for poor people and budgies
• TANKERS: Gearless vessels with no hatches
• MILO: Who knows?
got from this link:
http://virtualshipbroker.blogspot.com/2010/02/excellent-commercial-question-from.html
by: Suraz said...
Here is the example of logging using Splunk.
(Splunk is enterprise software used to monitor, report and analyze the machine data produced by the applications, systems and infrastructure that run a business,http://en.wikipedia.org/wiki/Splunk.)
I am running Solaris
bash-3.00# uname -a
SunOS atlas.haritamineral.com 5.10 Generic_141445-09 i86pc i386 i86pc
bash-3.00#
Using syslog for logging jetty log.
The configuration of log4j.properties looks like:
log4j.rootCategory=INFO, CONSOLE, LOGFILE, SYSLOG
log4j.appender.SYSLOG=org.apache.log4j.net.SyslogAppender
log4j.appender.SYSLOG.Threshold=INFO
log4j.appender.SYSLOG.Target=com.haritamineral
log4j.appender.SYSLOG.layout=org.apache.log4j.PatternLayout
log4j.appender.SYSLOG.layout.ConversionPattern=%d{dd/MMM/yy HH:mm:ss} %5p %t %c{1}:%L - %m%n
log4j.appender.SYSLOG.SyslogHost=localhost
log4j.appender.SYSLOG.Facility=Local2
log4j.appender.SYSLOG.FacilityPrinting=true
and the syslog.conf in /etc
I Just add one line
#jetty
local2.info @master.haritamineral.com
Where is master.haritamineral.com is splunk server that listen logging UDP and TCP running on port 514.
for restart, disable, enable the syslog is using svcadm command.
#svcadm restart system-log
First try, I am getting error :
Nov 21 14:34:25 atlas.haritamineral.com syslogd: line 20: unknown priority name
After googling, that my mistakes is using of space instead of TAB key.
as you can see you can see my log4j in my jetty applications in Splunk Log Management.
Is Data ONTAP Based On UNIX?
A customer recently asked, “Is Data ONTAP based on UNIX?” Complicated question.
The first version of Data ONTAP borrowed lots of code from Berkeley Net/2 (one of the earliest open-source releases of UNIX), including the TCP/IP stack, system boot code, and device drivers. Since then, we’ve borrowed liberally from other open-source UNIX releases. We wrote the command line interface from scratch, but we designed it to look like UNIX, since our first market was UNIX system administrators. Clearly, ONTAP is related to UNIX.
On the other hand, ONTAP’s architecture is very different from UNIX. There is no user-space, the filesystem is completely different, the RAID and diskubsystems are completely different and most important of all, the interaction between subsystems is very different. The key data paths from network to disk look nothing at all like UNIX.
You can imagine two completely different ways of building an appliance. You could start with UNIX and strip out, disable, or hide the pieces you don’t want. sOr else you could start from scratch, inventing a new architecture optimized for the task at hand, but borrowing liberally from the UNIX code-base as appropriate. We chose the latter.
Interestingly, our advanced ONTAP GX architecture is built on top of a full UNIX release. We took Data ONTAP, including WAFL and RAID, combined it with the new code from our Spinnaker acquisition, and hosted the combined result on FreeBSD in a combination of user processes and kernel modules. For security and simplicity we have disabled and hidden many parts of FreeBSD.
Even for ONTAP GX, this isn’t quite the “start with UNIX and slim it down” approach, because most of the system lives in large kernel modules that kick UNIX out of the way. They grab control of almost all of the memory, as well as the critical device drivers, and we even re-wrote the scheduler to make sure the UNIX parts don’t get in the way. We’re still not using the normal UNIX data paths.
Why the difference? One reason is that CPUs are way more powerful now than when we started, so a little bit of extra overhead matters less. (Our first product used a 50 megahertz 486.) In addition, UNIXs have gotten much better. When we started, there was no Linux, no FreeBSD, and AT&T and UC Berkeley were still in a legal battle over big chunks of the Berkeley Net/2 Release.
Although these two approaches feel very different to engineers developing the systems, each with its own advantages and disadvantages, there is little if any difference to the end-user.
(note: without permission to dave)
Superkomputer China Resmi Kalahkan Amerika
Senin, 15 November 2010 | 22:15 WIB
Superkomputer buatan China yang diberi nama Tianhe-1A berlokasi di National Supercomputer Center, Tianjin.
TERKAIT
BEIJING, KOMPAS.com — China secara resmi mencatatkan diri sebagai negara yang memiliki superkomputer tercepat di dunia. Ini adalah kali pertama superkomputer buatan China masuk daftar peringkat pertama superkomputer tercepat dunia yang dirilis situs web www.top500.com dan mengalahkan superkomputer-superkomputer buatan Amerika Serikat.
Tianhe-1 atau berarti Bima Sakti, nama superkomputer yang dibangun di National Supercomputing Centre di Tianjin, melampaui kecepatan hingga 2,570 petaflop atau triliun kalkulasi per detik. Di urutan kedua terdapat Jaguar, superkomputer milik Pemerintah AS di Tennessee dengan 1,750 petaflop.
Tidak hanya satu superkomputer China yang unjuk gigi. Di urutan ketiga pun terdapat superkomputer milik China, yakni Nebulae, di National Supercomputing Centre di Shenzhen. Superkomputer buatan ASmemang masih mendominasi daftar tersebut. Dari 500 unit, lebih dari setengah berada di AS. China mencatat 42 unit dan melampaui jumlah superkomputer Jepang, Perancis, Jerman, dan Inggris. Namun, superkomputer-superkomputer di China menggunakan cip buatan perusahaan AS, antara lain Nvidia.
Sebagai informasi, pengumuman daftar 500 superkomputer tercepat dilakukan rutin dua kali setahun. Penilaian berdasarkan kecepatan yang dicapai dengan tes benchmark ini dirancang ahli Jerman dan Amerika. Bukan kali pertama superkomputer Amerika dikalahkan negara Asia karena pada tahun 2002, Jepang pernah melakukannya.
PENANGGALAN HIJRIAH
Memahami Perbedaan Idul Adha 1431 H
Selasa, 16 November 2010 | 09:07 WIB
KOMPAS
Ijtimak Awal Zulhijah 1431 Hijriah 6 November 2010 pukul 15.52 WIB
TERKAIT:
* Meneguhkan Semangat Berkurban
* Wukuf Tentukan Waktu Shalat Idul Adha
* Sebagian Umat Shalat Idul Adha Pagi Ini
M ZAID WAHYUDI
KOMPAS.com - Potensi adanya perbedaan Idul Adha 1431 Hijriah sudah diprediksi para ahli hisab rukyat dan astronom sejak beberapa tahun lalu. Perbedaan itu terwujud saat ini dengan adanya sebagian umat Islam Indonesia yang memperingati Idul Adha pada Selasa ini, sama seperti di Arab Saudi, dan sebagian lagi Rabu esok.
Melalui sidang isbat atau penetapan yang dilakukan Kementerian Agama dan dihadiri wakil berbagai organisasi massa Islam, pemerintah menetapkan Idul Adha 10 Zulhijah 1431 H jatuh pada 17 November 2010.
Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama yang juga Profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin di Jakarta, Senin (15/11), mengatakan, secara teoretis atau hisab, bulan sabit tipis atau hilal tidak mungkin diamati pada 6 November karena ketinggiannya di atas ufuk masih di bawah dua derajat. Hal itu juga didukung dengan data pengamatan yang menunjukkan hilal belum bisa dilihat atau dirukyat di seluruh Indonesia.
Dengan demikian, bulan Dzulqa’dah atau bulan ke-11 dalam kalender Islam dibulatkan menjadi 30 hari sehingga 1 Zulhijah bertepatan dengan 8 November.
Di Indonesia, lanjut Djamaluddin, jika ada yang menetapkan Idul Adha pada 16 November, hal itu karena menggunakan kriteria wujudul hilal atau terbentuknya hilal (tanpa perlu diamati) sehingga bulan Dzulqa’dah hanya 29 hari.
Perbedaan lain muncul dengan ketetapan Pemerintah Arab Saudi yang menetapkan Idul Adha juga pada 16 November sehingga puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah dilakukan pada 9 November kemarin.
Menurut Djamaluddin, keputusan Pemerintah Arab Saudi menentukan Idul Adha tahun ini tergolong kontroversial. Secara teoretis, hilal tidak bisa dirukyat pada 6 November di Mekah. Namun, ternyata otoritas setempat menentukan berbeda.
Sebagai catatan, dalam keputusan penentuan hari raya, Pemerintah Arab Saudi sering kali digugat oleh para astronom di Timur Tengah dan kawasan lain. Meskipun Arab Saudi menggunakan metode melihat hilal untuk menentukan awal bulan, tapi sering kali hilal yang diklaim bisa dilihat itu secara teoretis astronomi tidak mungkin bisa dilihat.
Garis penanggalan bulan
Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama lainnya yang juga ahli kalender di Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, mengatakan, garis penanggalan pada kalender Hijriah berbeda dengan garis penanggalan kalender Masehi.
Garis penanggalan Masehi didasarkan pada patokan garis bujur timur atau garis bujur barat 180 derajat. Dalam penanggalan ini, daerah yang memiliki garis bujur sama atau berdekatan mulai dari kutub utara hingga kutub selatan akan selalu memiliki hari yang sama. Perubahan hari dimulai pada pukul 00.00.
Daerah yang lebih timur juga dipastikan akan lebih dahulu waktunya dibandingkan daerah di baratnya. Karena itu, dalam sistem penanggalan Masehi, waktu di Jakarta atau waktu Indonesia barat (WIB) selalu empat jam lebih dulu dibandingkan waktu Mekkah.
Namun, garis penanggalan bulan berbeda. Garis penanggalan bulan memiliki 235 variasi. Setiap bulannya, garis penanggalan bulan berbeda-beda. Garis penanggalan bulan akan kembali di dekat tempat yang sama sekitar 19 tahun kemudian.
Banyaknya variasi garis penanggalan bulan ini ditentukan oleh posisi Bulan terhadap Bumi, dan posisi sistem Bumi-Bulan terhadap Matahari.
Daerah yang pertama kali melihat hilal akan mengawali hari lebih dulu. Hal ini berarti, daerah yang terletak pada garis bujur yang sama atau berdekatan, hari atau awal bulan Hijriahnya bisa berbeda. Hari dimulai setelah Matahari terbenam atau magrib, bukan pukul 00.00.
Kondisi ini, lanjut Moedji, yang membuat waktu di Jakarta tidak selalu lebih dahulu dibanding Mekkah. Jika diasumsikan, hilal pada Zulhijah kali ini pertama kali dilihat di Mekkah, maka sesudah magrib atau sekitar pukul 18.00 di Mekkah sudah masuk bulan baru.
Saat itu, di Jakarta sudah pukul 22.00 WIB. Baru pada magrib keesokan harinya, Jakarta memasuki Zulhijah. Artinya, pada bulan Zulhijah kali ini waktu di Jakarta tertinggal 20 jam dibandingkan waktu Mekkah.
”Dalam penanggalan Hijriah, waktu di Indonesia bisa jadi lebih dulu dibandingkan waktu di Arab Saudi. Namun, bisa jadi pula Arab Saudi lebih dulu dibanding Indonesia,” tambahnya.
Menurut Moedji, perbedaan awal hari dalam kalender Hijriah inilah yang sering dipahami secara salah. Mereka beranggapan, karena waktu di Indonesia lebih cepat dibanding Mekkah, maka saat di Mekkah berhari raya, di Indonesia juga harus berhari raya. Padahal, konsep ini didasarkan atas pencampuradukkan konsepsi kalender Hijriah dan Masehi sehingga menimbulkan kerancuan.
”Umat Islam Indonesia harus memahami bahwa mereka menggunakan dua sistem kalender. Kalender Masehi untuk keperluan sehari-hari dan kalender Hijriah untuk keperluan ibadah. Setiap kalender memiliki konsep dan konsekuensi masing-masing yang berbeda,” ungkapnya.
Meskipun berbeda, baik Moedji maupun Djamaluddin mengajak umat Islam menghormati perbedaan yang ada. Kejadian ini harus kembali memacu umat Islam Indonesia untuk segera membuat kriteria penentuan awal bulan Hijriah secara bersama yang berlaku nasional.
Jika sudah ada, maka konsepsi ini bisa disosialisasikan secara regional dan internasional sehingga diperoleh sistem penanggalan Hijriah yang bisa berlaku secara global.
”Sistem penanggalan Hijriah memang lebih kompleks dibandingkan penanggalan Masehi, tapi itu bukan berarti tidak bisa distandardisasi,” ujar Moedji.
Ngeper Perang Siaga di Perundingan
SEMANGAT tempur bergelora di dada Sersan Kepala Edy Musyawan. Gigi gerahamnya gemerutuk menahan amarah. Prajurit TNI Angkatan Laut itu berdiri di atas dek kapal perang KRI Rencong dengan mata menyala. Edy seakan hendak menerkam kapal perang Malaysia yang berkeliaran di sekitar Ambalat, perbatasan RI-Malaysia, di Laut Sulawesi.
"Kalau mau tempur, siap!" kata Edy sembari mengacungkan tinjunya. Ia bilang, naluri perangnya tertantang saat melihat manuver provokatif kapal perang Malaysia. Di mata Edy, kapal negara jiran itu makin lama kian kurang ajar. Sejak Kamis pekan silam, jumlah armada mereka yang lalu lalang di kawasan sengketa itu makin bertambah banyak.
Sebelumnya, hanya terlihat dua kapal perang. Kini enam kapal Kerajaan Malaysia yang berpatroli. Dengan teropong KRI K.S. Tubun, Gatra melihat armada tempur Malaysia bergerak ke wilayah Indonesia. Kapal perang Diraja Malaysia (KD) Sri Johor berada di barisan terdepan. Disusul KD Buang dan KD Kota Baharu. Mereka konvoi bersama dua kapal patroli polisi Malaysia.
Manuver tentara Diraja Malaysia itu tak dibiarkan oleh tentara Indonesia. Tiga kapal perang Indonesia --KRI Wiratno, KRI Tongkol, dan KRI Tedong Naga-- segera menghadang. KD Sri Johor putar haluan setelah berhadapan dengan KRI Tongkol dalam jarak sekitar 30 meter. Begitu juga kapal Malaysia lainnya.
Tidak terjadi pembicaraan lewat radio antara dua awal kapal perang yang berseteru itu. "Kontak radio dengan mereka? No way," ujar Komandan KRI K.S. Tubun, Letnan Kolonel I Nyoman Gede Aryawan. "Arahan dari pimpinan TNI sudah jelas, jangan diskusi di lapangan," Aryawan menegaskan. Sebelumnya, sempat terjadi perang mulut lewat radio antara KRI Rencong dan kapal perang Malaysia KD Kerambit.
Dua kapal perang itu nyaris bentrok di perairan sekitar Takat Unarang --nama resmi Karang Unarang, Sabtu dua pekan lalu. Waktu itu, KRI Rencong berpatroli mengawal pembangunan rambu suar di situ. Ternyata, di perairan itu sudah ada KD Kerambit. KRI Rencong berada di perairan Indonesia, koordinat 03.59 lintang utara (LU)-118.4 bujur timur (BT).
Sedangkan KD Kerambit berada di posisi 04.01 LU-118.05 BT. Jarak mereka tak sampai sepelemparan peluru. "Mungkin area tersebut telah diklaim pihak Malaysia sebagai wilayahnya," kata Letnan Kolonel Marsetio, Kepala Staf Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Timur.
Lewat kontak radio, awak kapal perang Malaysia menyebut KRI Rencong memasuki wilayah perairannya. KD Kerambit menyuruh KRI Rencong putar haluan. Mendengar seruan itu, KRI Rencong langsung menjawab bahwa kapal Malaysia yang justru masuk wilayah Indonesia. "Sempat terjadi adu argumen mengenai kedaulatan wilayah tersebut," kata Marsetio pula.
Setelah berulang kali KRI Rencong mengingatkan bahwa laut yang diarungi KD Kerambit adalah wilayah RI, kapal Malaysia itu putar haluan. KRI Rencong terus membuntuti kapal tersebut hingga jarak sekitar 900 meter. Melalui radio, awak kapal Malaysia berkecepatan 21 knot itu mendesak agar pembangunan suar di Takat Unarang dihentikan.
Indonesia tak menggubris permintaan Malaysia itu. Pembangunan rambu suar di Takat Unarang jalan terus. Agar para pekerja tenang, pembangunan menara suar itu ditunggui 10 personel pasukan Marinir TNI Angkatan Laut. Sampai akhir pekan lalu, pembangunan menara suar itu sudah mencapai 60%.
Meruncingnya hubungan RI-Malaysia bermula dari langkah perusahaan minyak Malaysia, Petronas, yang memberi konsesi eksplorasi kepada perusahaan Inggris-Belanda, Shell, 16 Februari lalu. Malaysia mengklaim wilayah sebelah timur laut Kalimantan Timur itu miliknya. Ia menyebut wilayah Ambalat Blok XZY berdasarkan peta yang dibuatnya pada 1979.
Indonesia menyebut blok yang sama sebagai Blok Ambalat dan Blok Ambalat Timur. Wilayah di kedua blok ini diperkirakan mengandung minyak dan gas ratusan juta barel. Di Blok Ambalat ini, Indonesia telah memberikan konsesi eksplorasi kepada ENI, perusahaan minyak Italia. Blok Ambalat Timur diberikan kepada perusahaan Amerika Serikat, Unocal. Dalam rangka mengamankan Blok Ambalat, Indonesia lantas mendirikan menara suar di Takat Unarang, masih terbilang kawasan Ambalat.
Kemudian terjadilah insiden Takat Unarang. Sebanyak 17 pekerja Indonesia ditangkap oleh awak kapal perang Malaysia KD Sri Malaka, 21 Februari lalu. Mareka baru dilepaskan setelah dijemur selama empat jam di atas geladak kapal perang KD Sri Malaka. Mendengar kabar tak sedap itu, KRI Rencong dan KRI Tongkol yang sedang berpatroli di laut Sulawesi Selatan diperintahkan meluncur menuju lokasi panas.
Lima kapal Indonesia lainnya menyusul. Kelimanya adalah KRI K.S. Tubun, KRI Nuku, KRI Singa, KRI Tedong Naga, dan KRI Wiratno. Kehadiran tujuh kapal Indonesia di kawasan Ambalat ini untuk sementara mampu mencegah gerakan kapal perang Malaysia ke wilayah Indonesia.
Namun Malaysia tidak mau diam. Sebuah pesawat pengintai ditengarai kembali melintas di wilayah udara Indonesia, Senin pekan lalu. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.00 di dekat Pulau Sebatik, Kalimantan Timur. "Saya tidak bisa memastikan jenis pesawatnya. Tapi, yang jelas, telah memasuki wilayah RI," ujar Prajurit Satu Agus Sugiyono, anggota Batalyon Marinir III Surabaya yang bertugas di Pulau Sebatik.
Sejumlah prajurit Marinir TNI Angkatan Laut sebetulnya telah siap membidikkan senjata mesin berat berpeluru kaliber 12,7 mm. Namun, karena tidak ada perintah untuk menembak, pasukan Marinir urung memuntahkan pelurunya. "Kalau ada perintah, ya, kami tembak," kata Agus Sugiyono.
Manuver Malaysia tidak hanya sebatas itu. Jauh hari sebelumnya, persisnya 7 Januari, Tentara Diraja Malaysia juga menguber-uber kapal motor nelayan Daya Sakti. Kapal berawak enam orang itu sempat dihujani tembakan dan dilempar granat. Daya Sakti yang berada 4 mil di sebelah barat Takat Unarang itu dianggap memasuki wilayah Malaysia.
"Kapal itu rusak karena sempat ditabrak patroli Malaysia," kata H.M. Yusuf, Ketua Himpunan Nelayan Kabupaten Nunukan. Akibat insiden itu, para nelayan takut mencari ikan di seputar Ambalat. H.M. Yusuf yang asli Makassar itu pun meminta bantuan TNI untuk menjaga para nelayan yang melaut di seputar Ambalat. "Tanpa ada jaminan keamanan, ya, berat, karena tentara Malaysia tidak segan menembak kami," katanya.
Ulah tengil kapal patroli Diraja Malaysia terulang, Senin lalu. Ketika KRI K.S. Tubun yang ditumpangi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berlayar dari Nunukan menuju Sebatik, dua kapal perang Malaysia, KD Pari dan KD Paus, melintas di depan KRI K.S. Tubun. Jaraknya sekitar dua mil laut atau sekitar 3,2 kilometer.
Berbagai provokasi Malaysia itu tidak urung membuat geram masyarakat Indonesia. Selain dihadang TNI, langkah Malaysia hendak mencaplok Ambalat juga disambut kemarahan masyarakat Indonesia. Demo anti-Malaysia bermunculan di sejumlah kota di Tanah Air. Berbagai kelompok masyarakat dan mahasiswa turun ke jalan untuk menyerang Malaysia. Demo itu diwarnai pembakaran bendera Malaysia.
Jargon "Ganyang Malaysia" yang digelorakan Bung Karno pada 1960-an kembali dikumandangkan para demonstran. Anggota Komisi I DPR-RI, Permadi, pun ikut berdemo bersama mahasiswa. Komisi yang mengurusi bidang pertahanan, luar negeri, dan informasi itu menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Malaysia, Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. "Usir Malaysia," teriak para demonstran.
Di luar demo anti-Malaysia, ada juga kelompok demonstran yang menuding Pemerintah Indonesia sengaja membelokkan isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ke kasus sengketa minyak di Ambalat. Sekelompok mahasiswa Unversitas Negeri Jember, Jawa Timur, misalnya, menuduh pemerintahan Presiden Yudhoyono sengaja menutupi isu kenaikan harga BBM dengan sengketa Ambalat. Demo anti-kenaikan harga BBM sama serunya dengan gerakan anti-Malaysia.
Hanya saja, sebagian warga Malaysia sepertinya cuek saja menghadapi gerakan anti-Malaysia itu. Tidak ada serangan balik dari negeri jiran. Yang ada hanya seruan agar warga Malaysia mengurangi pemakaian tenaga kerja Indonesia. Anjuran ini datang dari Persekutuan Majikan-majikan Malaysia (MEF).
Ketua Eksekutif Majikan Malaysia, Shamsudin Bardan, menyarankan agar Kerajaan Malaysia membuka peluang lebih lebar untuk mengambil pekerja dari negara lain. "Dengan begitu, Kerajaan Malaysia tidak terlalu bergantung pada tenaga kerja dari Indonesia," kata Shamsudin Bardan, yang dikutip Utusan Malaysia, koran terbesar Malaysia.
Pemberitaan pers Malaysia tentang sengketa Ambalat juga tak segencar media di Tanah Air. Media cetak dan elektronik Malaysia hanya memberi porsi kecil pada berita yang berkaitan dengan Ambalat. Sedangkan media massa Indonesia, selama sepekan belakangan ini, menjadikan Ambalat sebagai headline. Pemberitaan pers Indonesia sempat membuat gusar Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar.
Dia menilai sikap media di Indonesia memicu sentimen anti-Malaysia. "Ini tidak kondusif bagi upaya penyelesaian masalah," ujar Hamid Albar. Soal sengketa wilayah itu, menurut Syed Hamid Albar, Pemerintah Malaysia akan melindungi kepentingan dan kedaulatan negaranya. Tapi dia juga menegaskan, Malaysia tidak menginginkan konfrontasi dengan Indonesia. "Kalau kami melindungi kepentingan dan kedaulatan kami, tidak berarti kami menginginkan konfrontasi," Hamid Albar menegaskan.
Ia berniat menggunakan lintasan diplomatik untuk membereskan sengketa Ambalat. Pertemuan Syed Hamid Albar dengan Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda di Jakarta menyepakati, penyelesaian masalah perbatasan laut kedua negara melalui jalan damai. Selanjutnya tim teknis Indonesia dan Malaysia akan bertemu pada 22-23 Maret mendatang.
Kedua negara juga setuju mengambil langkah untuk mengurangi ketegangan yang berkembang beberapa hari terakhir. Hanya saja, jalur perundingan yang dijajal Hassan Wirajuda dan Syed Hamid Albar tidak mengendurkan semangat TNI untuk menempatkan pasukan di Laut Sulawesi. Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menegaskan, prajurit TNI tetap disiagakan di perairan penuh minyak yang kini diincar Malaysia itu.
"TNI wajib menjaga negara," kata Endriartono Sutarto. Jumlah pasukan dan alat tempur yang ditempatkan di garis batas akan disetarakan dengan pasukan Malaysia. Saat ini, pasukan Marinir TNI Angkatan Laut yang dikomandani Letnan Dua Willy Udianto disiagakan di Pulau Sebatik. Sedikitnya, tiga senjata mesin berat ditempatkan di sana.
Moncong senjata berat buatan Rusia dan Belgia yang punya daya jangkau tembak 1.200-2.500 meter diarahkan ke kota Tawau, Malaysia. Di wilayah sekitar Pulau Sebatik, sedikitnya terdapat enam pos pertahanan perbatasan. Antara lain pos Marinir di Tinabasan dan Sungai Bolong. Lalu pos TNI Angkatan Laut di Nunukan, Sei Pancang, Sei Nyamuk, dan Sei Taiwan.
Rencananya, satu batalyon Marinir dari Surabaya dikirim ke Tarakan. Pasukan elite TNI Angkatan Laut itu dilengkapi berbagai mesin perang. Antara lain peluncur roket yang mampu memuntahkan 40 peluru sekaligus dalam tiga detik. Jarak tembaknya 24 kilometer, dengan daya hancur 2 kilometer persegi. Selain itu, puluhan tank amfibi BTR-80, yang merupakan tank terbaru Marinir, juga dipersiapkan untuk dikirim ke perbatasan.
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Djoko Santoso menyatakan, pasukan TNI Angkatan Darat siap mendukung operasi di Ambalat. ''Kami tidak akan membiarkan satu jengkal tanah pun diambil negara lain," kata Djoko Santoso.
TNI Angkatan Udara mengirim empat pesawat tempur F-16 ke Balikpapan. Pesawat yang semula berada di Madiun itu dipindahkan ke Kalimantan Timur untuk memudahkan kontrol atas Ambalat. Lima kapal perang TNI Angkatan Laut bersenjata lengkap berpatroli di Ambalat. Yakni KRI Nuku, KRI Wiratno, KRI K.S. Tubun, KRI Rencong, dan KRI Tongkol.
Operasi Ambalat juga diperkuat dua pesawat pengintai Nomad, dua pesawat Cassa, dan satu helikopter Bolko yang disiagakan di KRI K.S. Tubun. Pesawat itu bertugas mengawasi gerakan kapal Malaysia yang berusaha menerobos masuk ke wilayah Nusantara sejak sengketa Ambalat mencuat. Menurut Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono, Malaysia menggunakan sengketa Ambalat sebagai uji coba terhadap kekuatan militer Indonesia. "Karena kita dinilai tidak terlalu kuat," tutur Juwono Sudarsono.
Belakangan Malaysia ngeper, karena dalam waktu singkat Indonesia mampu menggerakkan tujuh kapal perangnya ke Ambalat. Apa boleh buat, sikap armada tempur Malaysia di Laut Sulawesi telah membuat geregetan anggota TNI seperti Sersan Kepala Edy Musyawan tadi. Prajurit yang berdinas di Angkatan Laut selama 11 tahun itu mengaku rindu perang. "Kalau Malaysia itu berani jualan, pasti akan kami beli."
Heddy Lugito, Bernadetta Febriana, Luqman Hakim Arifin, dan Alexander Wibisono (Ambalat)
[Laporan Utama, Gatra Nomor 18 Beredar Senin, 14 Maret 2005]
Adjie Suradji
Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan.
Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam kepemimpinan berkarakter, termasuk keberanian mengambil keputusan dan menghadapi risiko. Kepemimpinan berkarakter risk taker bertentangan dengan ciri-ciri kepemimpinan populis. Pemimpin populis tidak berani mengambil risiko, bekerja menggunakan uang, kekuasaan, dan politik populis atau pencitraan lain.
Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.
Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soe- harto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya. Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.
Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu ”Bersama Kita Bisa” (2004) dan ”Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional.
Artinya, apabila pemerintahan SBY berniat memberantas korupsi, seharusnya fiat justitia pereat mundus—hendaklah hukum ditegakkan—walaupun dunia harus binasa (Ferdinand I, 1503- 1564). Bukan cukup memperkuat hukum (KPK, MK, Pengadilan Tipikor, KY, hingga Satgas Pemberantasan Mafia), korupsi pun hilang. Tepatnya, seolah-olah hilang. Realitasnya, hukum dengan segala perkuatannya di negara yang disebut Indonesia ini hanya mampu membuat berbagai ketentuan hukum, tetapi tak mampu menegakkan.
Quid leges sine moribus (Roma)—apa artinya hukum jika tak disertai moralitas? Apa artinya hukum dengan sedemikian banyak perkuatannya jika moral pejabatnya rendah, berakhlak buruk, dan bermental pencuri, pembohong, dan pemalas?
Keberanian
Meminjam teori Bill Newman tentang elemen penting kepemimpinan, yang membedakan seorang pemimpin sejati dengan seorang manajer biasa adalah keberanian (The 10 Law of Leadership). Keberanian harus didasarkan pada pandangan yang diyakini benar tanpa keraguan dan bersedia menerima risiko apa pun. Seorang pemimpin tanpa keberanian bukan pemimpin sejati. Keberanian dapat timbul dari komitmen visi dan bersandar penuh pada keyakinan atas kebenaran yang diperjuangkan.
Keberanian muncul dari kepribadian kuat, sementara keraguan datang dari kepribadian yang goyah. Kalau keberanian lebih mempertimbangkan aspek kepentingan keselamatan di luar diri pemimpin—kepentingan rakyat—keraguan lebih mementingkan aspek keselamatan diri pemimpin itu sendiri.
Korelasinya dengan keberanian memberantas korupsi, SBY yang dipilih lebih dari 60 persen rakyat kenyataannya masih memimpin seperti sebagaimana para pemimpin yang dulu pernah memimpinnya.
Memang, secara alamiah, individu atau organisasi umumnya akan bersikap konservatif atau tak ingin berubah ketika sedang berada di posisi puncak dan situasi menyenangkan. Namun, dalam konteks korupsi yang kian menggurita, tersisa pertanyaan, apakah SBY hingga 2014 mampu membawa negeri ini betul-betul terbebas dari korupsi?
Pertanyaan lebih substansial: apakah SBY tetap pada komitmen perubahan? Atau justru ide perubahan yang dicanangkan (2004) hanya tinggal slogan kampanye karena ketidaksiapan menerima risiko-risiko perubahan? Terakhir, apakah SBY dapat dipandang sebagai pemimpin yang memiliki tipe kepemimpinan konsisten dalam pengertian teguh dengan karakter dirinya, berani mengambil keputusan berisiko, atau justru menjalankan kepemimpinan populis dengan segala pencitraannya?
Indonesia perlu pemimpin visioner. Pemimpin dengan impian besar, berani membayar harga, dan efektif, dengan birokrasi yang lentur. Tidak ada pemimpin tanpa visi dan tidak ada visi tanpa kesadaran akan perubahan. Perubahan adalah hal tak terelakkan. Sebab, setiap individu, organisasi, dan bangsa yang tumbuh akan selalu ditandai oleh perubahan- perubahan signifikan. Di dunia ini telah lahir beberapa pemimpin negara yang berkarakter dan membawa perubahan bagi negerinya, berani mengambil keputusan berisiko demi menyejahterakan rakyatnya. Mereka adalah Presiden Evo Morales (Bolivia), Ahmadinejad (Iran), dan Hugo Chavez (Venezuela).
Indonesia harus bisa lebih baik. Oleh karena itu, semoga di sisa waktu kepemimpinannya—dengan jargon reformasi gelombang kedua—SBY bisa memberikan iluminasi (pencerahan), artinya pencanangan pemberantasan korupsi bukan sekadar retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Kita berharap, kasus BLBI, Lapindo, Bank Century, dan perilaku penyelenggara negara yang suka mencuri, berbohong, dan malas tidak akan menjadi warisan abadi negeri ini. Sekali lagi, seluruh rakyat Indonesia tetap berharap agar Presiden SBY bisa membawa perubahan signifikan bagi negeri ini.
Adjie Suradji Anggota TNI AU
Terlepas dari melawan adat dan terlepas dari siapakah Adjie Suradji sebenarnya, namun tulisan tersebut semoga menyadarkan pemimpin bangsa ini, untuk membawa Indonesia yang lebih baik, dan berkeadilan sosial.
KOMPAS.com - Indonesia baru saja merdeka, Belanda ingkar janji. Suara bom pesawat Belanda mengagetkan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Anak buahnya mencoba menenangkan Sudirman, "Itu hanya anak-anak yang sedang latihan perang."
Sudirman baru saja kehilangan satu paru-parunya di meja operasi. Rasa sakit masih menyiksa. Akan tetapi, instingnya sebagai ahli taktik perang berkata, ada yang tidak beres. Sadar negara dalam keadaan genting, Sudirman menemui Presiden Soekarno di Istana Gedung Agung, Yogyakarta.
Di hadapan Soekarno, Sudirman minta izin memulai gerilya untuk menghancurkan mental Belanda. Kala itu, Soekarno melarang, "Kang Mas sedang sakit, lebih baik tinggal di kota". Sudirman menyahut, "Yang sakit Sudirman, Panglima Besar tidak pernah sakit."
Jawaban Sudirman sebelum memulai perang gerilya itu kini dituliskan pada mural berlatar belakang bendera Merah Putih di Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama. Menurut Kepala Seksi Pemandu dan Pameran Museum Mayor Riko Sahani, bangunan museum ini dulunya merupakan markas besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) saat perang kemerdekaan.
Keterbatasan fisik tak menyurutkan niat Sudirman memimpin perang gerilya. Bertolak dari rumah dinasnya di kawasan Bintaran yang kini jadi Museum Panglima Besar Jenderal Sudirman, satu kompi pasukan (80 tentara) dibawa. Demi keamanan, keluarganya dititipkan di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Lahir
Sesaat setelah merdeka, Indonesia yang baru lahir mendapat cobaan bertubi-tubi. Pemberontakan pecah di mana-mana, tentara sekutu yang diboncengi Belanda kembali menancapkan kuku penjajahannya. Di tengah kekacauan itulah, rantai komando perang lahir dari Yogyakarta.
Berawal dari inisiatif Letnan Jenderal Urip Sumoharjo yang melontarkan keprihatinan "alangkah lucunya negara tanpa tentara" maka dibentuk TKR yang menjadi cikal bakal lahirnya Tentara Nasional Indonesia. Melalui konferensi besar TKR pada 12 November 1945, untuk pertama kalinya, Indonesia memiliki pucuk pimpinan tertinggi angkatan perang.
Setelah mengusir tentara sekutu di Ambarawa pada Oktober 1945, Kolonel Sudirman dilantik menjadi Pimpinan Tertinggi TKR, sedangkan Urip Sumoharjo menjadi Kepala Staf Umum yang meletakkan dasar organisasi TNI. Pelantikan dilaksanakan pada 18 Desember 1945.
Dari markas besar TKR di Yogyakarta, terpancar kesatuan komando ke seluruh Tanah Air dalam mempertahankan kemerdekaan yang mulai terancam tentara Belanda maupun pemberontakan dari dalam negeri. Perang di bawah rantai komando Sudirman, antara lain, adalah perang atau palagan di Bandung yang dikenal sebagai Bandung Lautan Api. Bandung dibumihanguskan saat melawan sekutu dan Belanda November 1945-24 Maret 1946.
Perang lain di bawah komando markas besar TKR di Yogyakarta adalah Palagan Surabaya di bawah pimpinan Bung Tomo yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan 10 November. Beberapa kali pemberontakan mulai dari PKI Muso di Madiun, DI/TII di Jawa Tengah, hingga RMS di Maluku berhasil dipadamkan.
Selama perang gerilya Desember 1948-10 Juli 1949, Sudirman juga memegang rantai komando untuk serangan umum 1 Maret 1949 yang dipimpin Letnan Kolonel Soeharto.
Melalui serangan umum, tentara berhasil menguasai kembali Yogyakarta selama enam jam. Dunia menyaksikan, Indonesia masih ada dan PBB mendesak Belanda membuka jalan perundingan melalui Konferensi Meja Bundar yang berisi pengakuan terhadap kedaulatan Indonesia.
Meski tidak banyak meninggalkan catatan di wilayah yang dilintasi seperti di Bantul, perjalanan gerilya Sudirman menjadi spirit tersendiri bagi masyarakat. "Semangat dan kegigihannya tetap berjuang meski sakit seharusnya terus diteladani," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul Suyoto. (ENY/WKM)
If the standard methods can't be used (for ex, if the database is too big for a complete dump), another method can be used: WAL archiving.
This page describes how to use WAL archiving and PITR on an example database.
Backup ¶
The setup procedure is the following:
* Configure PITR recovery by defining an archive_command
* Restart the cluster to start WAL archiving
To make a backup:
* Connect to the database and run the pg_start_backup('label') function
* Backup the entire cluster (without stopping it)
* Connect to the database and run the pg_stop_backup() function
(Intro) WAL files ¶
At all times, postgresql maintains a WAL (write-ahead log) in the pg_xlog subdirectory of the cluster. These files are primarily used for crash-safety purposes: each operation on the database is logged in a WAL file (with a default limit of 16 MB). By default, WAL files are recycled. However, if postgresql is configured to continuously log all operations, these files can be used for backups, acting exactly like incremental backups. This has some benefits:
* Backups does not need to be perfectly consistent: you need a backup of the cluster, and some WAL files
* A complete dump of the database is not needed
* Incremental
* Continuous
* Point in time recovery: it is possible to restore the database at its state at any time since the backup
However, there are some drawbacks:
* Additional complexity
* Needs lots of space on disk
* More writes on disk (can impact performance)
* Works on the entire cluster
PITR is generally not needed: you should prefer using dumps when possible. PITR can be used for large databases, continuous backups, or high-availability.
Before trying to use PITR, you should practise, and test on a non-critical database.
Enabling WAL archiving ¶
We will configure postgresql to archive WAL files when they are complete, instead of recycling them.
(Option) Creating a test cluster ¶
Since we don't want to crash our production server, we'll create a test cluster.
# mkdir /bigstuff/pgPITR
# chown postgres:postgres /bigstuff/pgPITR
# su - postgres
$ export PGDATA=/bigstuff/pgPITR
$ /usr/lib/postgresql/8.2/bin/initdb
The files belonging to this database system will be owned by user "postgres".
This user must also own the server process.
The database cluster will be initialized with locale C.
fixing permissions on existing directory /bigstuff/pgPITR ... ok
creating subdirectories ... ok
selecting default max_connections ... 100
selecting default shared_buffers/max_fsm_pages ... 32MB/204800
creating configuration files ... ok
creating template1 database in /bigstuff/pgPITR/base/1 ... ok
initializing pg_authid ... ok
initializing dependencies ... ok
creating system views ... ok
loading system objects' descriptions ... ok
creating conversions ... ok
setting privileges on built-in objects ... ok
creating information schema ... ok
vacuuming database template1 ... ok
copying template1 to template0 ... ok
copying template1 to postgres ... ok
WARNING: enabling "trust" authentication for local connections
You can change this by editing pg_hba.conf or using the -A option the
next time you run initdb.
Success. You can now start the database server using:
/usr/lib/postgresql/8.2/bin/postgres -D /bigstuff/pgPITR
or
/usr/lib/postgresql/8.2/bin/pg_ctl -D /bigstuff/pgPITR -l logfile start
Add archive_command ¶
Edit your configuration file to add archive_command. This command can do anything you want (from a simple copy to a complex script), just remember to return 0.
For our test, we will copy files to a directory in /tmp. Stop the server, and edit the configuration:
$ vi $PGDATA/postgresql.conf
archive_command = 'cp %p /tmp/wals/%f'
Restart the server.
PostgreSQL will now work as usuel, creating WAL files in its pg_xlog subdirectory. However, when they are complete, it will copy them to the /tmp/wals/ directory.
(Option) Create a test database ¶
$ /usr/lib/postgresql/8.2/bin/pg_ctl -l /tmp/pg.log start
server starting
$ createdb test
CREATE DATABASE
$ psql test
[...]
test=# BEGIN WORK;
BEGIN
test=# CREATE TABLE dummy1 AS SELECT * FROM pg_class, pg_attribute;
SELECT
test=# COMMIT;
COMMIT
test=# select pg_size_pretty(pg_relation_size('dummy1'));
pg_size_pretty
----------------
97 MB
(1 row)
test=# \q
At this point, PostgreSQL should have archiving some files:
$ ls -al /tmp/wals/
total 98402
drwxr-xr-x 2 postgres postgres 288 Jan 6 15:00 .
drwxrwxrwt 24 root root 2304 Jan 6 14:59 ..
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 000000010000000000000009
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000A
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000B
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000C
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000D
-rw------- 1 postgres postgres 16777216 Jan 6 15:00 00000001000000000000000E
Backup the cluster ¶
You need to backup the cluster directory. You can use any method you want (tar, cpio, bacula, etc). to backup the cluster directory ($PGDATA).
Note: you don't need to stop the cluster or take extra precautions.
For our example, we'll just create a tar archive. Before doing so, we just need to inform postgresql that we will create a backup using the command pg_start_backup.
$ psql test
[...]
test=# SELECT pg_start_backup('full backup');
pg_start_backup
-----------------
0/F74F118
(1 row)
test=# \q
$ tar -cvzf /tmp/pgdata.tgz $PGDATA
$ psql test
[...]
test=# SELECT pg_stop_backup();
pg_stop_backup
----------------
0/F74F118
(1 row)
test=# \q
The argument of pg_start_backup is simply a label that helps you. This will be stored in file $PGDATA_backup_label.
(option) create some tables ¶
Create one more table:
test=# BEGIN;
BEGIN
test=# CREATE TABLE dummy2 AS SELECT * FROM pg_class, pg_attribute;
SELECT
test=# COMMIT;
COMMIT
If you want to test PITR, create a table dummy3:
test=# BEGIN;
BEGIN
test=# CREATE TABLE dummy3 AS SELECT * FROM pg_class, pg_attribute;
SELECT
test=# COMMIT;
COMMIT
test=# BEGIN;
BEGIN
wait some time (remember the exact time !), then drop it:
test=# DROP TABLE dummy3;
DROP TABLE
test=# COMMIT;
COMMIT
test=# \q
(option) simulate disaster ¶
.. or just wait for it to happen ..
Here, we'll just kill brutally the server:
$ kill -9 $(head -1 $PGDATA/postmaster.pid)
Recovery ¶
At this point, your database must be stopped.
The procedure is the following:
* If possible, get data from the damaged cluster
* Restore the complete cluster backup from the archive
* Clean up the restored cluster (remove pg_xlog files and the pid file)
* If possible, copy WAL files from the damaged cluster to the restored cluster
* Create the $PGDATA/recovery.conf file
* Start the cluster
* Watch the logs, then verify the restored data
Old cluster ¶
First, we need to try to recover data from the old cluster. If it is not possible, you will still be able to recover data from you backup, but you will maybe lost data from the most recent (unarchived) WAL file.
Here, we will just rename it:
$ mv $PGDATA $PGDATA.old
Restore the cluster ¶
Restore the cluster using your favorite method.
For our example, we'll use the tar archive:
$ (cd / && tar xvzf /tmp/pgdata.tgz)
$ chmod 0700 $PGDATA
Clean up the restored directory:
$ rm $PGDATA/pg_xlog/0*
$ rm $PGDATA/postmaster.pid
Restore WAL files from the old cluster ¶
If available, you can copy the WAL files from the pg_xlog subdirectory of the damaged cluster:
$ cp -a $PGDATA.old/pg_xlog $PGDATA/
Create a recovery file ¶
Create a new file $PGDATA/recovery.conf. The only required line is restore_command:
restore_command = 'cp /tmp/wals/%f %p'
recovery_target_time = '2008-01-06 15:18:00 CET'
The recovery target time allows you to recover the most recent data (if you do not specify recovery_target_time) or at a precise time.
If you removed WAL files after archiving them from the directory (/tmp/wals), you should restore them as well.
Start the database, and witness the miracle ¶
Start the database:
$ /usr/lib/postgresql/8.2/bin/pg_ctl -l /tmp/pg.log start
server starting
PostgreSQL will detect the file recovery.conf, and start automatic recovery:
$ tail -f /tmp/pg.log
LOG: database system was interrupted at 2008-01-06 15:01:57 CET
LOG: starting archive recovery
LOG: restore_command = "cp /tmp/wals/%f %p"
LOG: recovery_target_time = 2008-01-06 15:31:00+01
cp: cannot stat `/tmp/wals/00000001.history': No such file or directory
LOG: restored log file "00000001000000000000000F.0074F118.backup" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000000F" from archive
LOG: checkpoint record is at 0/F74F118
LOG: redo record is at 0/F74F118; undo record is at 0/0; shutdown FALSE
LOG: next transaction ID: 0/618; next OID: 24582
LOG: next MultiXactId: 1; next MultiXactOffset: 0
LOG: automatic recovery in progress
LOG: redo starts at 0/F74F168
LOG: restored log file "000000010000000000000010" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000011" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000012" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000013" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000014" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000015" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000016" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000017" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000018" from archive
LOG: restored log file "000000010000000000000019" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000001A" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000001B" from archive
LOG: restored log file "00000001000000000000001C" from archive
cp: cannot stat `/tmp/wals/00000001000000000000001D': No such file or directory
LOG: could not open file "pg_xlog/00000001000000000000001D" (log file 0, segment 29): No such file or directory
LOG: redo done at 0/1CFFFD70
LOG: restored log file "00000001000000000000001C" from archive
LOG: archive recovery complete
LOG: database system is ready
If you specified the correct recovery_target_time, you will be able to restore your database just at the moment before dropping the table dummy3:
test=# \d
List of relations
Schema | Name | Type | Owner
--------+--------+-------+----------
public | dummy1 | table | postgres
public | dummy2 | table | postgres
public | dummy3 | table | postgres
(3 rows)
After recovery, PostgreSQL will rename recovery.conf to recovery.done.
PROFESIONALISME TNI DALAM MENGATASI KONFLIK LAF DAN IDF DI LEBANON SELATAN
06 Agu 2010
PUSPEN (6/8),- Prajurit Satgas Yon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indobatt) dengan sigap bertindak profesional dan imparsial dalam mengemban tugas serta tanggung jawabnya selaku Peacekeeper saat terjadi ketegangan antara IDF (Israeli Defence Forces) dan LAF (Lebanese Armed Forces) di salah satu Observation Post (OP) di daerah Al-Adaisse yang terkenal dengan sebutan ”Panorama Point” dan masih dalam Area of Responsibility (AOR) Indobatt di Lebanon Selatan, Selasa (3/8).
Menurut Komandan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/Indobatt), Letkol Inf Andi Perdana Kahar, tindakan menengahi yang sangat berani dilakukan oleh prajurit TNI berawal dari rencana kegiatan pemotongan batang pohon cemara yang tumbang dan mengenai pagar/Technical Fence oleh pihak IDF (Israeli Defence Forces). Kegiatan IDF ini tidak disetujui LAF (Lebanese Armed Forces) dan mendapat tentangan, karena menurut LAF pohon tersebut berada di wilayah negaranya. Walaupun kegiatan ini telah dipantau dan mendapatkan ijin dari UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) selaku pemegang mandat pemelihara perdamaian di wilayah Lebanon Selatan, namun pada kenyataannya kegiatan IDF di lapangan ini mendapatkan tentangan yang sangat keras dari LAF serta memicu ketegangan antara kedua belah pihak.
Lebih lanjut Komandan Indobatt menyatakan, sebagai pasukan penjaga perdamaian, Kompi A Indobatt telah melakukan segala upaya prosedural se-maksimal mungkin untuk meredakan situasi. Upaya negosiasi kedua pihak di lapangan yang dimediasi oleh Indobatt dan Liaison Officer (LO) dari markas UNIFIL, telah dilakukan selama kurang lebih 4 (empat) jam. Demi meredakan ketegangan yang terjadi, Danki A Indobatt Kapten Inf Fardin Wardhana mengambil resiko meloncati pagar pengaman jalan, kemudian turun mendekat ke area Blue-Line yang belum sepenuhnya bersih oleh ranjau (UXO), dengan mengibar-ngibarkan bendera PBB dan berdiri di tengah-tengah kedua belah pihak yang sedang berhadap-hadapan dengan bersenjata lengkap (pointing). Bukan hanya itu saja, anggota Tim Kompi A Indobatt yang saat itu berjaga-jaga di Observation Post (OP) tersebut, seluruhnya membantu dengan mengibarkan bendera sambil mengangkat tangan serta meminta kepada kedua pihak agar dapat menahan diri dan dapat mencari kata sepakat mengenai pemotongan pohon cemara tersebut.
Menurut keterangan yang diperoleh dari saksi mata Lettu Inf Arief Widyanto, selaku Perwira Force Protection Indobatt yang saat itu berada di tempat kejadian, dijelaskan bahwa situasi menjadi makin menegangkan dan sangat tidak terkendali saat salah satu pihak melepaskan tembakan. Tembakan tersebut selanjutnya memicu terjadinya kontak tembak antara IDF dan LAF. Sesuai prosedur, prajurit Indobatt melakukan tindakan taktis mencari tempat perlindungan di sekitar lokasi kejadian saat terjadi baku tembak antara LAF dan IDF. Sesuai dengan perintah Komando, prajurit Indobatt kemudian melaksanakan pengunduran diri mencari posisi berlindung yang aman dan menunggu perintah lebih lanjut. Baku tembak ini melibatkan dua pesawat Heli Apache dan 3 (tiga) Tank ”Markava” IDF, yang melepaskan tembakan ke arah kedudukan pasukan LAF.
Situasi pertempuran yang makin hebat dan membahayakan personel Unifil dalam hal ini Indobatt, memaksa Markas Komando Sektor Timur Unifil mengambil keputusan dan memerintahkan Komandan Indobatt untuk menarik personel Indobatt yang berada di lokasi kontak tembak ke posisi yang lebih aman sambil tetap memonitor keadaan. Dalam proses penarikan pasukan tersebut, personel Kompi A Indobatt terpecah menjadi dua kelompok yang terpisah satu sama lain karena gencarnya tembakan yang dikeluarkan oleh kedua pihak dalam pertempuran tersebut. Satu kelompok ke arah Al-Adaisse dan kelompok yang lain ke arah Kafer Kela. Dari hasil pengecekan personel, didapati masih ada dua personel yang belum diketahui keberadaannya dan putus kontak dengan induk pasukan.
Selama satu jam lebih, keberadaan dua prajurit tersebut ternyata masih berada di lokasi peristiwa kontak senjata. Kedua prajurit Indobatt ini, terjebak dalam kontak senjata kedua belah pihak dan hanya bisa berlindung di balik bangunan tanpa dapat malakukan pengunduran dari daerah pertempuran. Setelah kontak tembak sedikit mereda Kopda Zulkarnain dan Praka Oksa berusaha mencari pasukan kawan ke arah Kafer Kela yang merupakan Area of Responsibility (AoR) Spain Battalion. Kedua prajurit ini tidak bertemu dengan satupun anggota Peacekeeper yang diharapkan berada di pos pengamatan Spainbatt, karena telah ditarik mundur oleh Komando Atas.
Dari keterangan kedua prajurit tersebut, mereka memutuskan untuk menuju ke arah Fatima Gate, persimpangan jalan dimana terdapat OP (Observation Post) Spainbatt lainnya. Sama seperti kejadian pada pos sebelumnya, mereka tidak menemukan satupun anggota UN yang siaga di tempat tersebut. Dalam keadaan putus hubungan komunikasi dengan pasukan induk serta tanpa mengetahui situasi terakhir, mereka menerima bantuan salah satu masyarakat Lebanon yang bersedia mengantarkannya ke markas Indobatt UN Posn 7-1 desa Adshit Al-Qusayr yang berjarak 15 Km dari Fatima-Gate.
Dari peristiwa kontak tembak antara LAF dan IDF telah jatuh korban dari kedua belah pihak. Dari pihak Lebanon, tiga anggota LAF dan satu orang jurnalis AL-Akhbar Lebanese tewas di tempat. Sedangkan dari pihak IDF, dua orang Perwiranya menjadi korban dan meninggal dunia. Untuk pihak Indobatt sendiri, tidak ada kerugian personel maupun material. Hal ini dikarenakan kesigapan prajurit Indobatt dalam melaksanakan tindakan pengunduran pasukan sesuai dengan STIR (Standardize Tactical Incident Reaction) yang dilakukan berdasarkan perintah Komando Atas dalam hal ini oleh Sektor Timur UNIFIL.

